Kamis, 05 Juni 2014

Shiroh Sahabat - Khalifah Tak Haus Kuasa : Umar bin Abdul Aziz


       Kisah tentang khalifah tabi'in  Umar bin Abdul Aziz ini penuh inspirasi. begitu mulia kisah perjalanan salah satu sahabat nabi ini, sehingga ketika kita membaca atau mendengarkan kisahnya membuat hati ini tersentuh dengan kemuliaan akhlaknya dalam memimpin rakyatnya.
Ziyad bin Maisarah Al-MAkhzumi bercerita,
      "Suatu ketika aku diutus oleh majikanku, Abdullah bin Ayyash, dari Madinah menuju Damaskus untuk menumui Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz karena suatu keperluan. Antara aku dan Umar bin Abdul aziz pernah berhubungan lama saat dengan beliau masih menjadi menjadi gubernur Madinah.
      Ketika aku masuk, beliau sedang bersama penulisnya.Dimuka pintu aku memberi salam, "Assalamualaikum.", "Waalaikumsalam warahmatullah, wahai Ziyad" beliau menjawab.
      Tiba-tiba aku merasa bersalah tidak memberikan salam pernghormatan terhadapnya sebagai Amirul Mukminin.Maka aku mengulang salamku, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, wahai Amirul Mukminin." Beliau berkata, "Wahai Ziyad, kami telah menjawab salammu yang pertama, lalu apakah perlu engkau mengucapkannya dua kali?"
      Saat sekretarisnya membacakan pengaduan-pengaduan yang dikirimi dari Bashrah lewat surat, beliau berkata, "wahau Ziyad, duduklah sampai kesibukanku ini selesai," Aku pun menuruti perintahnya. lalu sekretarisnya meneruskan membaca laporan, sementara nafas Khalifah naik turun karena gelisah mendengar pengaduan-pengaduan itu.
      Ketika sekretaris itu menyelesaikan pekerjaannya dan pergi, Umar berdiri menghampiri ku.Beliau duduk disisiku dekat pintu, menaruh tangannya diatas lututku sambil berkata, beruntunglah wahai Ziyad.Engkau bisa mengenakan baju takwamu dan terhindar dari kesibukan-kesibukan yang kami tangan saat ini."
kebetulan saat itu aku menggunakan baju takwa.
      Kemudian beliau bertanya tentang banyak hal. Tentang orang-orang shalih Madinah baik pria mau pun wanitanya satu per satu.Tak ada satupun yang terlewatkan,semua beliau bertanyakan semua pada saya. juga tentang bangunan-bangunan yang dibuatnya ketika beliau msih menjadi gubernur di Madinah.Aku menjawab semuanya dengan baik.
      Setelah itu kulihat beliau meghelakan nafas panjang, lalu berkata, "Wahai Ziyad, tidaklah kau lihat bagaimana keadaan Umar sekarang?"
      Aku berkata, "Saya mengharapkan pahala dan kebaikan bagi anda." Beliau menjawab, "Alangkah jauh ..." Lalu beliau menangis, sampai aku iba melihatnya. Lalu aku berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tenangkanlah hati anda, saya mengharapkan kebaikan bagi anda."
   Beliau menjawab, "Alangkah jauh diriku dari yang engkau harapkan.Telah datang kewenanganku untuk memaki namun tidak boleh ada orang memakiku.Ada kewenanganku untuk memukul orang,namun orang lain tidak boleh memukulku, aku boleh menyakiti manusia, sedeangkan tak satu orangpun yang berani menyakitiku. "
Beliau menangis lagi sampai aku tak tahan melihatnya karena iba dan terharu.
    Aku berada ditempat khalifah tiga hari sampai semua urusan yang diamanatkan oleh majikanku beres.Ketika aku hendak pulang, khalifah menitipkan surat untuk majikanku, meminta agar majikanku menjual diriku kepada Amirul Mukminin..Kemudian dari bawah bantalnya, Amirul mukminin mengambil uang sebesar 20 dinar lalu memberikan kepadaku.
     "Pakailah untuk meringankan kehidupanmu.Seandainya engkau punya hak atas sebagian fai', niscaya akan ku berikan untukmu."
     Mulanya aku menolak pemberiannya itu, namun beliau mendesaknya."Terimalah, ini bukan dari harta kaum muslimin atau kas negara, ini adalah uang pribadiku." Kemudian aku mohon diri untuk pulang.
     Sesampainya di Madinah, kuserahkan surat pribadi Amirul Mukminin kepada tuanku.setelah dibaca, ia pun berkata, "dia ingin aku menjualmu kepadanya semata-mata untuk membebaskanmu.Maka, kenapa bukan aku saja yang menjadi seperti dia  dan membebaskanmu?" lalu akupun dimerdekakan oleh tuanku.



sumber: MULIA

0 komentar:

Posting Komentar